*”SAYANG, NANTI KITA JUMPA DI SURGA…”*

*”SAYANG, NANTI KITA JUMPA DI SURGA…”*

Petang tadi saya menerima panggilan telephone, pemanggil tersebut meminta saya untuk mengurus jenazah ibunya yang baru meninggal dunia.
Dengan adanya amanah, maka segera saya bergegas ke rumah duka, yang letaknya tidak jauh dari kediaman saya.

Setiba saya disana hari sudah lewat petang. Banyak peziarah, yang terdiri daripada sanak saudara, tetangga dan handai tolan yg sudah memenuhi rumah duka.

Saya melangkah masuk, bertemu dengan suami dan anak-anak Almarhumah.
Setelah rapat Keluarga, kami mendapat keputusan, bahwa pengurusan jenazah akan dilaksanakan esok hari karena hari sudah terlalu malam.
Malam itu jenazah hanya dibersihkan dengan mengelap tubuhnya menggunakan kain sambil dibantu anak-anaknya seramai empat org, 2 lelaki.. 2 orang perempuan. Kesemuanya sudah besar dan beberapa diantaranya sudah menikah.

Kesokan harinya pagi sekali saya sudah tiba dirumah tersebut. Pada saat akan memandikan jenazah, salah seorang anak datang kepada kepada saya, dan berkata ;

*_”Bolehkah kami memandikan sendiri jenazah ibu kami?”_* tanya si anak tadi.

*_”Boleh”_* jawab saya, dengan senang hati mendengar permintaan si anak.
Memang itulah sebaik-baiknya. Lebih afdal anak sendiri yang uruskan jenazah ibu bapa mereka.

*_”Tapi Ustazah, kami tidak pernah melakukan nya, kami tak tahu apa². Ustazah ajarkanlah kami”,_* kata seorang lagi anak perempuan.

*_”Tidak masalah, saya akan mendampingi dan memberi petunjuk_* jawab saya.

Saya mengingatkan anak perempuan saja, rupanya 2 orang anak lelaki & suami Almarhumah juga ingin turut serta memandikan jenazah.

Atas permintaan mereka, saya menyetujuinya, karena Islam tidak melarang, memang seorang suami boleh memandikan jenazah isterinya dan begitulah sebaliknya.

Namun dikarenakan anak2 lelaki juga ingin memandikan, maka saya terpaksa membagi tugas.
Si suami, saya minta bersihkan bahagian kepala, anak lelaki di bahagian kaki & anak perempuan dari bahagian badan dan ke bagian paha.

*_”Gunakan sarung tangan masing”._* Ujar saya sambil menghulurkan sarung tangan karet untuk digunakan bagi memandikan jenazah. Tapi, suami & anak² menolak.
*_”Semasa kecil, ibu mandikan kami tidak pernah pakai sarung tangan. Kami tak mau memakainya”,_* tolak si anak lembut.

Saya sedikit tersentak mendengar kata² itu. Kagum dengan jawapan si anak. Terharu saya mendengarnya.

Kemudian, saya pegang ciduk dan guyurkan air ke muka jenazah. Si Suami lalu bersihkan wajah isterinya. ketika Si suami membersihkan wajah isterinya, satu drama yang menyayat hati & penuh emosi berlaku.

Sambil menggosok lembut wajah jenazah isterinya, si suami tadi mengungkap kembali satu persatu segala kenangan nya ketika mereka hidup bersama.

*_”Sayang…inilah wajah manis yang abang tatap masa hidup. Inilah wajah yang abang pernah sayang. Wajah yang pernah jadi isteri Abang”,_* tutur suami sambil tangan lembut membersihkan wajah jenazah isteri tercinta.

Selesai muka, suami tadi beralih pula ke mulut, sekali lagi ungkapan manis terpancul dari mulut si suami.
*_”Sayang…inilah mulut yang selalu senyum pada abang. Inilah mulut yang selalu bersenda gurau dengan abang, menghibur abang selama ini, mulut yang berikan abang semangat ketika menghadapi masalah”,_* ungkapnya dengan linangan air mata.

Saya yang menyaksikan tindakan spontan suami itu turut menjadi terharu. Terharu mendengar kata² ikhlas dari suaminya. Saya tahu ini suami yang benar-benar sayang pada isterinya.

Selesai bagian si ayah, 2 anak perempuannya pula mengambil tempat. Sekali lagi hati saya tersentuh hingga jadi tersedan. Sambil membersihkan tangan si ibu, anaknya menyampaikan segala jasa ibu mereka.

*_”Ibu, inilah tangan yang besarkan kami, didik kami, tangan inilah yang suapkan makanan ke mulut kami. Inilah tangan yang dodoikan kami, jari jemari ini yang kesatkan airmata kami. Tangan ini juga yg dukung kami sewaktu kecil. Ibu.. jasa ibu amat besar”,_* tutur seorang anak perempuannya. Air matanya masih mengalir.

Pabila sampai ke bagian perut, seorang lg anak perempuannya bersuara, *_”Ibu, inilah perut yang mngandungkan kami, terima kasih ibu, lahirkan kami, didik & besarkan kami”_* ungkap si anak tersebut. Air mata mereka terus berjujuran.

Bukan hanya mereka, saudara yang menyaksikan turut menangis, apalagi saya yg berada di sisi mereka.
Sungguh, waktu itu terasa begitu hening. Suasana sangat pilu. Menyaksikan semua kata² ikhlas ini dari suami dan anak2 si mati.

Setelah selesai tugas anak perempuan, anak lelaki pula menyelesai kan tugas bagian mereka. Sambil membersihkan kaki, mereka meluapkan segala jasa² wanita yang melahirkan mereka itu.

*_”Ibu, inilah kaki yang berjalan mencari rezeki untuk kami. Kaki inilah yang besar kan kami. Kaki inilah yang bawa kami bersiar-siar², hiburkan kami, jasa ibu tak terbalas. Terima kasih ibu”,_* ujar anak lelaki dengan suara tersekat-sekat.
Menyaksikan semua itu, air mata saya tak dapat dibendung lagi. Sesekali saya berpaling ke arah lain, menghapus air mata yang kian laju mengalir.

Sudah banyak jenazah yang saya mandikan, tapi inilah pertama kali saya menyaksikan adegan yang sangat menyentuh jiwa. Hati saya tersentuh sedih sekali

Setelah semua anak selesai, saya mengambil giliran semula. Saya membersihkan bahagian dubur. Tapi si suami menolak karena dia ingin melakukannya sendiri.

*_”ini isteri saya, biar saya yang lakukan Ustazah tolong ajarkan saya”,_* tutur si suami.

Sekali lagi saya menyetujui dengan kehendaknya. Saya arahkan si suami supaya menekan perut secara perlahan-lahan untuk mengeluarkan najis di dubur.

Semasa si suami melakukannya, sekali lagi jiwa saya bagai dirobek². Jiwa saya tersentuh mendengar lafaz ikhlas suaminya. Sambil menekan lembut perut isterinya, si suami bersuara lagi.

*_”Sayang, ini rahim yang melahirkan anak² kita, menghasilkan zuriat kita, terima kasih Sayang”,_* tutur si suami lembut dengan matanya brkaca².

Sekali lagi air mata saya tertumpah. Di luar pula, air mata saudara- mereka yang menyaksikan drama itu semakin ikut larut dalam duka.
Saya tahu semua yang menyaksikan terharu. Saya sendiri turut tersentuh dengan sikap keluarga ini. Sungguh, suaminya memang seorang yang baik dan sangat menghormati jasa seorang wanita yg menjadi isterinya.

Selesai dimandikan dengan drama² yang menyentuh jiwa, jenazah dibawa ke ruang tamu untuk dikafankan.

Disinipun kerjasama dilakukan dgn baik oleh anak² & suami dengan petunjuk dari saya. Walaupun mengambil waktu yang agak lama, semuanya selesai dengan mudah sebelum jenazah dibawa ke tanah perkuburan.

Selesai tugas ini, maka saya serahkan pula kepada suami saya. Selepas kubur & suami saya hendak memulakan bacaan talqin, suami Almarhumah datang meminta izin.

*_”Ustaz, boleh ke saya nak bacakan talqin untuk isteri saya?”…_* tanya dia kepada suami saya.

Suami saya mengangguk dan si suami tadi mengambil tempat di sebelahnya. Dalam keadaan suara yang serak kerana masih bersedih, si suami tadi memulakan bacaan. Bacaan kali ini memang lain sekali dari kebiasaannya.

*_”Sayang, hari ini adalah hari terakhir kamu di muka bumi ini. Kamu berpisah dengan anak², Ayang berpisah dengan Abang.*
*Sayang.. malam ini Abang akan berteman hanya dengan anak-anak di sisi Abang”._*

*_”Sayang, nanti akan datang malaikat mungkar dan nakir bertanya.. Siapa Tuhan kamu? Siapa Nabi kamu? Apakah agama kamu? Apakah kiblat kamu? Apakah pegangan iktikad kamu? Siapakah saudara² kamu?_*

*_”Abang minta tolong dari Sayang, jawab dengan tenang, dengan lidah lancar, Bahwasanya Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, Islam Agamaku, Al-Quran Petunjukku, Org Islam adalah saudara²ku,”_* tutur si suami dgn sedih.

*_”insyaAllah nanti kita akan berjumpa lagi di Syurga. Sayang tunggu Abang di sana. Abang akan tetap merindui adinda Sayang hingga akhir hayat Abang.”_*

Sungguh, waktu itu sekali lagi air mata saya berderai, bukan hanya saya saja, hampir semua hadirin lain pun menangis. Saya tahu mereka menangis & bersedih bukan kerana pemergian Almarhumah, tapi tersentuh melihat kejadian tersebut.

Satu drama yang benar-benar nyata, memperlihatkan kasih sayang, kejujuran, kesetiaan dan cinta yang tulus ikhlas dari seorang suami kepada isteri. Kisah kasih sayang antara anak² dan ibu dalam keluarga ini.

Saya benar² kagum dan terharu dengan keluarga tersebut. Si anak bukanlah berpendidikan tinggi atau berlatarbelakang agama bergelar ustaz atau ustazah, tapi mereka semua mempunyai budi pekerti dan akhlak yang tinggi.

Lihat bagaimana mereka menghargai jasa seorang ibu sehingga ke akhir hayat. Bagi saya, mereka jadi begitu adalah hasil didikan seorang ibu yg berhasil memberikan kasih sayang & didikan dengan sempurna.

Sungguh, jenazah wanita hebat yang memiliki suami dan anak² seperti itu…..
Allahu Akbar….😔😔😔..😭😭😭😭😭😭😭😭

348 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six + seventeen =